Jutaan Petasan Memasuki Jakarta, Anak-anak Suka

Rumah itu kemarin hancur karena ledakan. Salah seorang penghuni tewas. Pemilik rumah mengalami luka bakar. Di lokasi ledakan polisi mendapati selongsong mercon bergaris tengah 6,5 sentimeter, sepanjang 12,5 sentimeter. Polisi bilang, baru satu yang diketahui meledek.

Beberapa rumah tetangga pusat ledakan pecah kacanya. Gentengnya hancur. Peristiwa di Desa Sidoluhur, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu terjadi Ahad pagi kemarin (Kompas.com, 27/5/2018).

Dan nun di Desa Cakura, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, petasan juga merusak rumah kemarin.

Rumah itu habis bukan karena ledakan melainkan terbakar. Cucu pemilik rumah menyalakan petasan di dekat kios bensin eceran. Taksiran kerugian Rp900 juta (TribunTakalar.com).

Warta saat Ramadan hingga Lebaran selalu diramaikan oleh mercon. Padahal bermain petasan — apalagi memperdagangkannya — bisa dijerat hukum (lihatlah infografik).

Rabu pekan lalu (23/5/2018), misalnya, Polsek Pulogadung, Jakarta Timur, menyita 3,6 juta batang petasan dalam 45 karung. Barang itu dari Cirebon, hendak mengisi pasar Ibu Kota (Poskota News).

Saat ini bisnis petasan belum sampai puncaknya. Menurut pedagang mercon di Kebonjeruk, Jakarta Barat, pekan lalu, pembeli akan meningkat saat takbiran hingga beberapa hari setelah Lebaran. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak yang barusan terima uang hari raya (TribunJakarta.com).

Akan tetapi di kolong jalan layang Asemka, Jakarta Kota, pedagang petasan dan kembang api pekan lalu bilang puncak penjualan adalah pada H-2 — ya, 13 Juni 2018. Ada tiga puluhan pedagang di sana. Di luar musim petasan mereka berjualan mainan dan alat tulis. Merconnya datang dari Tiongkok. Omset seorang penjual (sehari?) bisa sampai Rp10 juta (Pos Kota News).

Tentu orang berjualan tak hanya di kios nyata. Melalui media sosial pun bisa. Di Temanggung, Jawa Tengah, MA (24) merakit mercon dan menerima pesanan via WhatsApp serta Facebook.

MA tak hanya menjual petasan jadi. Bahan peledaknya pun ia bisniskan. Jumat pekan lalu polisi mencokoknya. MA mengaku, “Obat petasan satu kilogram saya beli seharga 300 ribu dan saya jual kembali per gramnya 45 ribu.” (RMOL).

Catatan Redaksi: Infografik telah direvisi, antara lain dengan mencantumkan 
tambahan tahun pada fatwa MUI.
sumber: https://beritagar.id
Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *